Friday, June 12, 2009

PROSEDUR PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMERIKSAAN INSTALASI FIRE HYDRANT


 

BAB I

I     UMUM


 

  1. LATAR BELAKANG


 

Dengan pertimbangan mengenai kondisi safety peralatan instalasi fire hydrant dan kekhawatiran mengenai kondisi instalasi . Dan juga adanya kebutuhan untuk melaksanakan program perawatan intalasi fire hydrant yang tepat, maka dilaksanakanlah pemeriksaan dengan tujuan :


 

Dengan mengacu pada fakta-fakta diatas dan standar pipe code yang ada mengenai Piping inspection, maka secara teknis dipandang perlu untuk melakukan Reliability Analysis terhadap instalasi pipa fire hydrant tersebut.


 


 

  1. Maksud dan Tujuan


 

Maksud dan tujuan Reliability terhadap instalasi fire hydrant tersebut adalah untuk melakukan evaluasi terhadap kehandalan kondisi instalasi. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan antara lain


 

  1. Pemeriksaan NDT ( penetran test ) dan leak test pada instalasi fire hydrant untuk mengetahui atau meyakinkan bahwa instalsi yang dioperasikan dalam kondisi aman dan keselamatan kerja yang memenuhi syarat telah diproteksi dengan safety device yang berfungsi baik dan mempunyai perlengkapan pengukur (indikator-indikator) yang memenuhi syarat
  2. Pengukuran ketebalan pipa pada titik-titik yang berpotensi terjadi korosi terbesar, dimana mewakili kondisi pipa instalasi secara keseluruhan termasuk memperhitungkan hasil survey dengan menggunakan DM 4 DL.


 

  1. Pelaksanaan Risk Assessment yang mencakup identifikasi penyebab potensial failure dan pengaruhnya terhadap kelangsungan operasi instalasi terhadap lingkungan.
  2. Pelaksanaan Remaining Life Assessment berdasarkan kondisi riil actual pipa, parameter operasi dan lingkungan yang ada, dengan melakukan perhitungan engineering untuk memperkirakan umur pakai dari pipa tersebut .


     

Dari data hasil pemeriksaan tersebut diatas dan evaluasinya yang mengacu pada standar pipe code yang ada, maka bisa diperoleh kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut :


 

1.    Apakah instalasi fire hydrant tersebut terus bisa dioperasikan , sampai seberapa lama dan handal untuk kondisi operasi dan lingkungan yang ada.

  1. Apakah pipa tersebut memerlukan perbaikan untuk bisa terus beropersi secara aman dan handal, adapun jenis perbaikan tersebut bisa meliputi ,

    Misalnya :

    1. Sistem Coating atau Proteksi Cathodiknya.
    2. Penggantian pipa secara partial.
    3. Penggantian / perbaikan valve yang rusak
    4. Supportnya dan sebagainya


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

BAB II


 

  1. PENDEKATAN ENGINEERING


 

  1. REFERENSI
    1. API 570 piping inspection Code. Inspection, Repair, Alteration and Repairing of

In – service piping system.

  1. API – RP 574 Inspection of piping system components.
  2. ASME B31G, Manual for Determining the Remaining Strength of Corroded pipelines.
  3. ASME B31.3
  4. NACE RP 0169, Control of External Corrosion Underground or submerged Metallic Piping System.
  5. NACE RP 0175, Control of internal Corrosion in Piping System.
  6. Undang-undang No 1 tahun 1970
  7. SK DIRJEN Perlindungan dan Perawatan Tenaga Kerja No Kepts. 40/1978


 


 

  1. PELAKSANAAN


 

Prosedur pelaksanaan pekerjaan ini disusun untuk menjadi panduan dalam melaksanakan pekerjaan pemeriksaan instalasi fire hydrant. Adapun teknik yang akan digunakan adalah random-thickness measurement, leak test setiap valve serta keseluruhan instalasi baik dengan metode NDT ataupun hydrotest.

Sementara itu untuk random-thickness measurement akan dipilih pada titik yang diduga berpeluang mendapat serangan korosi terberat, yakni di titik down-stream pada shinker section pipa dan setelah section valve. Pemilihan titik ini dilakukan dengan asumsi bahwa turbulensi aliran yang bisa menyebabkan kerusakan permukaan internal dinding pipa besar peluangnya untuk terjadi di titik tersebut.

Pengambilan data ketebalan dinding pipa dari pipa penyalur ini adalah untuk mengetahui kondisi terakhir ( pada saat pengukuran ) dari jaringan pipa, dimana hasil dari pengukuran akan dibandingkan dengan design ketebalan awal sehingga akan diketahui laju korosi. Dari hasil tersebut kemudian diambil langkah-langkah yang perlu guna perbaikan dan penyempurnaan jaringan pipa penyalur ini, sehingga dapat memenuhi persyaratan keamanan, Keselamatan kerja serta lindungan lingkungan.


 

IV. METODOLOGI INSPEKSI

4.1 PENGAMATAN VISUAL

Pengamatan visual dari fakta instalasi dilakukan untuk mengetahui keadaan pipa, coating ,kondisi dari support dan perlengkapan peralatan.Hasil visual akan dievaluasi sesuai dengan mode failure and deterioration serta didokumentasikan dalam bentuk table dan foto-foto.


 

4.2 UJI NDT ( Penetrant Test )

Pengujian ini dilakukan uji pada body setiap valve dan daerah sambungan secara random yang mengacu dari hasil visual.

    Pengujian tersebut dapat memberikan gambaran kondisi valve serta sambungan terhadap cacat dibawah permukaan.


 

  1. PENGUKURAN KETEBALAN PIPA

    Pengukuran ketebalan dilakukan dengan pengukuran samping secara random/acak. Lokasi pengukuran dibagi menjadi 4 (empat) section/bagian dan masiang-masing bagian diambil 3(tiga) titik pengujian sehingga keseluruhannya menjadi 12 tiik


     

    Dari masing-masing titik uji diambil 4 posisi pengambilan data pada orientasi 0, 90,135 dan 180 derajat dan masing –masing posisi tersebut diambil 10 itik yang terjarak masing-masing 1 cm sehingga pada setiap titik lokasi pengukuran diperoleh 40 data hasil pengukuran.


 

Titik –titik yang dipilih adalah lokasi yang mempunyai karakteristik sebagai tempat dengan peluang terbesar terjadinya korosi atau peluang defect tinggi, yaitu daerah low-sot, deadleg, dan elbow sehingga hasil pengukuran di titik-titik tersebut dapat mewakili gambar kondisi dilokasi yang tidak diukur. Data- data tersebut dapat memberikan gambar kondisi seluruh pipa.


 

  1. UJI KEBOCORAN

    Pengujian ini dilakukan dengan cara memberikan tekanan pada instalasi fire hydrant dan

    ditahan secukupnya untuk melakukan analisa kebocoran pada keseluruhan instalasi


     


     

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Untuk mencapai tujuan di atas dan dikaitkan dengan metodologi pengambilan sample beberapa catatan berikut dibuat sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan menindaklanjuti hasil-hasil dari pemeriksaan ini :

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik, jika metode yang sama akan digunakan maka sebaiknya instalasi ini dilihat dulu dalam satu kesatuan dan ditinjau perbagian seperti :

a. Penentuan berdasar kritikal area

b. Pengelompokan line number.

c. Pengelompokan valve dan peralatan penunjang lainnya


 

Data-data Penunjang

1.Instalasi fire hydrant Data Sheet

Data sheet ini dapat digunakan sebagai sumber informasi pertama karena akan memuat data-data teknis pada saat design dan pemasangan seperti Pressure yang dipakai, thickness yang digunakan, rating dari peralatan dan protection jenis coating.

  1. As-built Data

Bahan-bahan ini akan bermanfaat sebagai petunjuk untuk memilih bagian-bagian yang harus mendapat perhatian lebih dan / atau focus dan suatu program inspeksi.

3.Environmental Data

Data ini sangat bermanfaat untuk melihat pembagian klasifikasi area dimana tergantung dari faktor resiko.

4.Monitoring equipments/ tools

Mengenai keberadaan monitoring equipment/tools di dalam sistem instalasi ini seperti : fire hydrant, smoke detector , alarm, hose dan sprinkle.

.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

ORGANISASI PELAKSANA

Untuk mendapatkan hasil yang baik dengan efektifitas kerja yang memadai, maka pekerjaan pemeriksaan ini akan dilaksanakan oleh team kerja yang terdiri atas personil dengan tugas masing-masing yang jelas. Organisasi tersebut terdiri atas:


 

Koordinator Pekerjaan

Koordinator Pekerjaan akan memantau perkembangan pekerjaan dari kantor pusat, dan akan terjun ke lapangan jika keadaan memerlukannya sesuai dengan permintaan dari Supervisor Lapangan. Sebagai Koordinator Lapangan, tugas dan kewajibannya tidak terbatas pada satu pekerjaan, melainkan beberapa proyek yang digarap oleh perusahaan sehingga fungsinya lebih cenderung kepada kebijaksanaan.


 

Supervisor Lapangan

Selama pekerjaan lapangan berlangsung, team pelaksana akan dipimpin oleh seorang Supervisor Lapangan, yang bekerja juga sebagai Pimpinan Team. Dia berperan sebagai penerus kebijaksanaan yang digariskan oleh Koordinator Pekerjaan dan mengatur tugas team, peralatan, logistik, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kelancaran pekerjaan lapangan. Supervisor Lapangan akan memberikan laporan kegiatan harian kepada Koordinator Pekerjaan dan kepada wakil dari client di lapangan, serta melaporkan berbagai kelainan tehnis yang ditemukan di lapangan untuk dianalisa oleh Koordinator Pekerjaan dan dicarikan jalan keluarnya.


 

Petugas Ultrasonik

Ketebalan sisa pipa akan diukur dengan menggunakan tehnik ultrasonik DM 4 DL. Titik pengukuran akan dilakukan disekeliling badan pipa pada setiap cm dan kearah memanjang setiap cm dengan total panjang 20 cm. Hal ini disesuaikan dengan rekomendasi yang ditetapkan sesuai dengan Standar di lapangan, scanning ketebalan akan dilaksanakan oleh Petugas Ultrasonik dibantu oleh 1 orang pembantu untuk pembersihan bidang yang akan diukur.


 

Petugas NDT

Peralatan NDT akan digunakan untuk mengetahui kondisi sambungan serta peralatan lain yang menjadi target pengecekan. Seorang petugas NDT akan mengidentifikasi daerah target dan diikuti oleh team untuk kepentingan lebih lanjut


 

Team Pendukung

Team pendukung pekerjaan ini adalah tenaga pembantu. Tugas mereka akan diatur oleh Supervisor Lapangan sesuai dengan kebutuhan atau permintaan team inti.


 

STRATEGI PELAKSANAAN

Untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal secara efektif, maka perlu diatur urutan pelaksanaan, sistim pelaporan, dan tehnik pelaksanaannya.

Urutan Pekerjaan

Pekerjaan harus dilakukan dengan urutan yang benar agar hasil pemeriksaan yang satu dengan lainnya bisa saling menunjang dan sinkron. Supaya bisa memperoleh hasil yang baik maka pekerjaan akan diurutkan seperti berikut:

  1. Supervisor Lapangan bersama-sama dengan Petugas Lapangan akan melakukan penelusuran jalur untuk menentukan dimana titik pengukuran ketebalan dan pemeriksaan NDT akan dilakukan.
  2. Akan dilakukan tindak lanjut pekerjaan apabila ditemukan kerusakan atau kebocoran.
  3. Analisa engineering akan dilakukan berdasar dari data pemeriksaan tehnis.
  4. Rekomendasi-rekomendasi untuk dijadikan acuan dan pertimbangan guna keamanan dan keselamatan dalam pengopresian instalasi tersebut.


 

No comments: